<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786</id><updated>2011-09-17T18:04:47.504+07:00</updated><title type='text'>Negeri Para Dewa</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786.post-860223859230133387</id><published>2009-08-22T18:13:00.005+07:00</published><updated>2009-08-23T19:49:31.851+07:00</updated><title type='text'>Berkah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Petikan surat Bindu:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Somya mengajakku jalan-jalan di sebuah taman di bumi. Seperti biasa, sebagian besar waktu perbincangan, diisi dengan canda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, entah mendapat ilham dari mana, ilmuwan Planet Ghrena itu berucap, “Alangkah indahnya taman ini, Bindu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak yakin cara menanggapinya, aku berkata, “Hm. Bunga-bunga itu memang cantik. Tanah subur. Disini, rezeki datang pada tiap jenis bunga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373129218504086482" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwjmE1U9I/AAAAAAAAAlo/56onxtGCQKo/s400/Taman+Itali+01.jpg" /&gt;“Ya. Semua bunga dapat rezeki. Tapi tidak semua bunga dapat berkah kan?” sahut Somya sambil, seperti biasa, cekikikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memasang wajah menunggu, jadi Somya melanjutkan, “Kemarin aku mendengar salah seorang tokoh bumi, berbicara dihadapan ribuan pengikutnya. Tokoh ini menganut kepercayaan tertentu, sebut saja kepercayaan Jalan Langit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teruskan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sang tokoh menegaskan, Jalan Langit adalah jalan istimewa. Satu-satunya jalan kebenaran. Diturunkan langsung oleh Yang Sempurna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah seorang pengikut, mengajukan pertanyaan. Jalan Langit adalah jalan istimewa. Tapi mengapa kehidupan para pengikut Jalan Langit, tidak istimewa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373129558081937186" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEw3XGgHyI/AAAAAAAAAlw/LtKNrR4bnIw/s400/Bunga+Kamboja+02.jpg" /&gt;Aku mengerti kegundahan si pengikut. Kenyataannya, jumlah rezeki tidak bergantung pada jenis kepercayaan seseorang. “Apa jawaban si tokoh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somya tersenyum, “Dia mengatakan, rezeki memang datang pada setiap orang. Hanya saja, rezeki untuk mereka yang berada diluar Jalan Langit, tidak berkah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ikut geli, “Dan bagaimana cara kita tahu, rezeki diluar Jalan Langit tidak berkah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somya menjulurkan kedua lengannya ke atas, “Dengan bertanya langsung pada Yang Sempurna dong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa, “Oke, itu bisa dilakukan. Tapi bagaimana agar pertanyaan itu mendapat jawaban?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somya mengedipkan sebelah matanya, “Tidak perlu khawatir. Jawaban disediakan oleh si tokoh itu kan? Karena dia merasa mewakili Yang Sempurna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum kecut, merasa mengenali situasi itu, “Tidak ada cara untuk menguji jawaban itu.” Aku merasa berbicara pada diriku sendiri, “Apa manfaat jawaban seperti itu, bagi para pengikut si tokoh? Jawaban itu serupa dengan fiksi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Somya yang semula berbinar nakal, tampak melembut, “Di Ghrena, kami menyebut jawaban-jawaban serupa itu, sebagai 'Yang Tak Bisa Dialami'. Bagi kami, gagasan-gagasan seperti itu tidak ada artinya. Tidak bermakna. Tidak berguna kecuali bila dipahami sebagai fiksi yang menghibur. Hal yang sia-sia saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“'Yang Tak Bisa Dialami'?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Karena gagasan semacam itu, hanya tampil sebagai gagasan. Sebagai kata-kata kosong. Tidak lebih. Tidak pernah menjadi pengalaman. Istilah 'Yang Tak Bisa Dialami', dipakai sebagai lawan dari 'Yang Bisa Dialami'.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Vetade, penghuni Planet Ghrena, punya istilah lucu untuk banyak hal. Aku mengangguk, “'Yang Bisa Dialami', berarti bisa diuji kebenarannya. Misalnya, bahwa Somya punya sepuluh jari tangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpE4y-x0btI/AAAAAAAAAmA/mca00AAYOdE/s1600-h/Tangan+02.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; FLOAT: left; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373138278926282450" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpE4y-x0btI/AAAAAAAAAmA/mca00AAYOdE/s200/Tangan+02.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpExYgpRb-I/AAAAAAAAAl4/HkJqni1zuqU/s1600-h/Tangan+02.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Somya tertawa, “Kira-kira begitu. Atau bahwa Bindu tampak tampan di pagi hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu lebih sulit disetujui. Mengukur ‘tampan’ jelas lebih sulit daripada mengukur ‘sepuluh jari tangan’. Yang jelas, kamu semakin pintar melancarkan rayuan tersembunyi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somya cekikikan, “Aku tidak merayu kamu. Perhatikan dong, aku memberi tekanan pada kata ‘di pagi hari’. Dan sekarang sudah agak siang kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang asyik berdiskusi dengan Somya. Sambil mengamati gelak tawanya, aku mengingat-ingat, berapa banyak gagasan tak berarti, yang aku miliki...? *&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7413335351300705786-860223859230133387?l=negeriparadewa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/860223859230133387/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/08/berkah.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/860223859230133387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/860223859230133387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/08/berkah.html' title='Berkah'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwjmE1U9I/AAAAAAAAAlo/56onxtGCQKo/s72-c/Taman+Itali+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786.post-7171481082533314536</id><published>2009-07-27T22:19:00.015+07:00</published><updated>2009-07-27T23:04:36.460+07:00</updated><title type='text'>Kata Kata</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Petikan surat Bindu:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Somya, tampak seperti gadis cantik lain. Berbusana seperti gadis muda biasa. Makan donat walau lebih suka makan salad. Tertawa terbahak-bahak. Suka berjalan-jalan ke tempat-tempat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun bisa disebut sebagai sepenuhnya manusia, Somya tidak lahir di bumi. Tidak juga di tata surya ini. Somya seorang Vetades, warga Negeri Vetade, lahir di sebuah planet, ratusan tahun cahaya dari bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363164214399820930" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/Sm3JcA9jZII/AAAAAAAAAkw/B03YPj_M6bA/s400/Planet+Ghrena+06.jpg" /&gt;Leluhur Vetades sama dengan leluhur manusia bumi. Hanya saja, Bangsa Vetade raib dari permukaan bumi, beberapa ribu tahun lalu. Sebagian besar manusia di bumi, mengenal Kaum Vetade dengan sebuah nama lain. Negeri Vetade yang tenggelam, telah jadi hikayat populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, saat negeri mereka hancur, sebuah gerbang lintas ruang-waktu telah mengungsikan Kaum Vetade ke sebuah planet lain... Planet yang kemudian mereka sebut Ghrena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerbang lintas ruang-waktu, hingga kini, diluar jangkauan teknologi Vetades. Gerbang itu bukan karya mereka. Suatu kecerdasan lain, ribuan tahun sebelumnya, telah membangun gerbang itu. Ribuan tahun kemudian, secara bergantian, berdasar perjanjian tertentu, sejumlah Vetades mendapat akses gerbang. Ilmuwan seperti Somya misalnya, bisa bolak-balik antara Ghrena dan Bumi, dalam sekejap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku janji bertemu Somya, siang itu, di tepi sebuah sungai indah. Saat pikiranku melayang membayangkan kehidupan di Ghrena, tiba-tiba saja, seseorang mengacak-acak rambutku dari belakang. Tak mungkin orang lain. Pasti Somya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai!” katanya, seperti biasa sambil cekikikan. Somya mahir beberapa bahasa bumi. Jadi, berkomunikasi dengan dia, bukanlah masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363166057694571442" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/Sm3LHTxRK7I/AAAAAAAAAk4/pQ_IVO6rCqU/s400/Taman+Surga+02.jpg" /&gt;Setelah berbasa-basi sejenak, kami duduk berdua di bantaran sungai. Aku geli melihat wajahnya, yang tampak seperti selalu tersenyum, “Bagaimana kabar planetmu, akhir-akhir ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ghrena? Ah, dia selalu baik-baik saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu Somya gemar membahas keterbatasan bahasa. Jadi aku gelitik dia, “Apa artinya? Apa makna ‘baik-baik saja’?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somya tertawa, “Oke Say. Warga bumi-lah, yang biasanya lupa pada status kata-kata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu, Vetades selalu mahir berbahasa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somya menonjok perutku. Aneh sekali cara orang Ghrena bercanda. Tonjokan itu tidak main-main. Ketika aku meringis kesakitan, Somya menepuk-nepuk punggungku. “Nah, itu juga salah satu cara Vetades berkomunikasi,” Somya tersenyum puas, “Bagian dari kemahiran kami berbahasa. Menurutmu, apa arti tonjokan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu baru belajar karate?”&lt;br /&gt;“Mengecewakan sekali!” teriak Somya demikian keras hingga beberapa orang disekitar, menengok ke arah kami. “Sebelum berkunjung ke Ghrena, jelas sekali, kamu harus lebih banyak meluangkan waktu untuk bercakap-cakap dalam kesunyian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu jelas sekali,” sahutku, “Kata-katamu memang menunjukkan, betapa pentingnya komunikasi tanpa kata-kata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha ha ha. Aku terpaksa menggunakan kata-kata, untuk berkomunikasi dengan pecinta kata-kata. Ya kan? Hanya saja, aku tak pernah lupa pada status kata-kata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagi-lagi, status kata-kata. Apa sih maksudnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Tonjokan tadi belum jelas ya?” kata Somya sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Oke deh. Akan kuperjelas. Tapi sebelumnya, kita berfoto dulu ya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somya bersiul, dan tiba-tiba saja, sebuah bola kecil melompat keluar dari tas jinjingnya. Lalu melayang di sekeliling kami, seperti mencari posisi. Ternyata, benda itu robot berkamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somya berpose, bergaya, memaksaku bergaya, dan setelah beberapa saat meraih tas jinjingnya. Hasil cetak foto, rupanya langsung tersedia di dalam tas. Teknologi Vetades, memang beberapa langkah lebih maju dibanding teknologi sepupu mereka di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/Sm3Gik67q5I/AAAAAAAAAkY/lyc7Qsl8tZU/s1600-h/Somya+03.jpg"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; FLOAT: left; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363161028596837266" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/Sm3Gik67q5I/AAAAAAAAAkY/lyc7Qsl8tZU/s200/Somya+03.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Sambil tersenyum-senyum, Somya menunjukkan hasil cetak foto-foto itu, “Aku memang cantik ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dia memang cantik. Tapi aku berkata, “Aku tak mau ambil risiko menerima tonjokan berikut, kalau berkata sebaliknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somya pura-pura cemberut. Dia menarikku duduk kembali di tepi sungai, lalu menunjuk foto-foto itu, “Lihat ini Sayang. Ini fotoku. Ini aku. Dua hal yang berbeda.”&lt;br /&gt;“Busyed. Mengapa kamu mengira aku tidak bisa membedakan, antara kamu dan fotomu?”&lt;br /&gt;Somya cekikikan lagi, “Aku sekedar mengatakan, kamu sering lupa bahwa keduanya berbeda.”&lt;br /&gt;“Kamu jangan menuduh yang bukan-bukan.”&lt;br /&gt;Somya menatapku, “Ini pengamatanku. Warga Planet Bumi sering lupa pada status kata-kata.”&lt;br /&gt;“Seperti apa sih, status kata-kata menurut Vetades?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangsa Vetade betul-betul membedakan, pengalaman langsung dengan pengalaman kata-kata. Dalam peristiwa di tepi sungai ini misalnya, pengalaman langsung adalah pengalamanmu tentang aku. Sementara kata-kata, adalah foto-fotoku ini. Bagi Vetades, kata-kata hanyalah simbol. Wakil dari pengalaman langsung. Alat untuk berkomunikasi. Tak lebih. Dengan demikian, status kata-kata selalu lebih rendah daripada status pengalaman langsung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja. Aku tak kan pernah mau, duduk-duduk di tepi sungai ini, hanya bersama foto-fotomu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somya berguling-guling di rumput sambil memegangi perutnya. Rupanya dia menganggap lelucon itu lucu sekali. Beberapa saat kemudian, setelah gelinya reda, dia menyambung, “Jelas, kata-kata tidak pernah memadai, untuk menggambarkan pengalaman langsung. Kata-kata, juga dengan mudah terdistorsi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk, “Penampilanmu dalam foto, memang lebih menarik daripada aslinya.”&lt;br /&gt;Sebuah tonjokan kembali bersarang di perutku. Sebelum terjadi pembantaian lebih lanjut, aku melanjutkan, “Lebih menarik, bukan berarti lebih cantik. Yang asli, memang jauh lebih cantik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somya berlagak puas, “Pernyataan yang bijaksana. Karena itu di Ghrena, kami tidak pernah bersengketa, cuma gara-gara kata-kata. Apalagi, kata-kata tentang hal-hal abstrak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menanggapi, “Kata seperti ‘cantik’, memang sulit dimengerti dengan baik. Arti ‘cantik’ bagiku, bisa jadi sangat berbeda dengan ‘cantik’ untukmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah. Hentikan usahamu mengingkari kecantikanku,” Somya tersenyum, “Tapi aku setuju, pengalaman kita tentang kecantikan, bisa saja sangat berbeda. Di Ghrena, hutan dan sungai biasa disebut cantik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm. Memang agak sulit bagiku, menyebut sungai ini secantik kamu. Ghrena mungkin sebuah surga untukku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang sekali kamu belum pernah ke Ghrena.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu maksud Somya, “Dengan demikian, besar sekali kemungkinan, kita bicara tentang surga yang berbeda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363166461381011298" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/Sm3LeznnZ2I/AAAAAAAAAlA/BqpSlcODAis/s400/Taman+Surga+01.jpg" /&gt;Aku diam sejenak, melirik Somya dan melanjutkan, “Tapi aku tidak akan menonjok perutmu, hanya karena perbedaan pandangan atas arti suatu kata.”&lt;br /&gt;Somya tertawa, “Mungkin tergantung jenis kata-katanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap mata coklat Somya, “Kecantikan. Tuhan. Kebaikan. Kejahatan. Cinta. Neraka. Kebenaran... Kata apapun.”&lt;br /&gt;“Kamu yakin?” Somya menelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah kita tidak pernah bisa yakin, pada makna kata-kata? Bagaimana mungkin aku berkelahi, demi sesuatu yang meragukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kamu akhirnya yakin? Seperti ketika kamu sudah yakin jatuh cinta padaku? Bukankah kamu siap berperang untuk membela cintamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa bilang aku jatuh cinta padamu?” protesku.&lt;br /&gt;“Kata-kata memang tidak bisa dipercaya,” Somya cekikikan.&lt;br /&gt;Gemas, kuacak-acak rambut gadis menyenangkan itu. *&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7413335351300705786-7171481082533314536?l=negeriparadewa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/7171481082533314536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/07/kata-kata.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/7171481082533314536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/7171481082533314536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/07/kata-kata.html' title='Kata Kata'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/Sm3JcA9jZII/AAAAAAAAAkw/B03YPj_M6bA/s72-c/Planet+Ghrena+06.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786.post-1175852410204996396</id><published>2009-02-26T16:38:00.011+07:00</published><updated>2009-09-01T16:29:19.082+07:00</updated><title type='text'>Gelembung Kesadaran</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Petikan surat Bindu:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di atas awan, di puncak sebuah gunung, kembali aku berjumpa Urmi. Kami berbincang di teras sebuah pondok cantik. Entah bagaimana, pondok itu bisa berada di puncak gunung sepi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu terpikat pada gumpalan awan. Melihat hamparan luas awan di bawah sana, memicu rasa asing aneh di hatiku, “Sungguh misterius...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307039164752717538" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 267px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SaZkAKAr5uI/AAAAAAAAAjA/PSuuUBzOqIk/s400/Negeri+Awan+06.jpg" border="0" /&gt;Walau tidak melihat ke wajah Urmi, aku tahu dia tersenyum. Urmi menyambut, “Mungkin engkaulah yang misterius...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menengok, “Bagaimana mungkin aku misterius?”&lt;br /&gt;“Karena gumpalan awan itu, adalah bagian dari dirimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa, “Sebetulnya aku berharap, engkaulah yang bagian dari diriku. Bukan awan.”&lt;br /&gt;Urmi mencondongkan wajahnya ke arahku, “Bukankah aku memang bagian dari dirimu?”&lt;br /&gt;Aku menatap Urmi, “Engkau mulai membingungkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SaZqk0Qww4I/AAAAAAAAAj4/NZ1ED-YehTY/s1600-h/Natsuki+Liburan+05.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307046391639491458" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SaZqk0Qww4I/AAAAAAAAAj4/NZ1ED-YehTY/s200/Natsuki+Liburan+05.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Bagi Bangsa Nor, kesadaran adalah satu kesatuan tak terpisahkan, Bindu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang tak terpisahkan?”&lt;br /&gt;“Engkau dengan lingkunganmu. Engkau dengan hal apapun yang memasuki alam kesadaranmu.”&lt;br /&gt;“Tak terpisahkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak terpisahkan. Perhatikanlah alam kesadaranmu sekarang ini. Di dalamnya, ada sesuatu Yang Mengamati. Sesuatu Yang Menggerakkan. Anggap saja, itu engkau. Selain itu, juga ada Yang Diamati. Seperti citra awan itu, kesejukan udara ini, dan kehadiranku. Hal-hal yang biasa kau anggap sebagai objek. Engkau dan objek-objek ini, tak terpisahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingat, kau pernah menjelaskan konsep ini, di lain kesempatan. Tapi begini, bukankah jelas bahwa aku terpisah dari objek-objek itu? Bukankah aku berada disini, sementara awan-awan itu berada disana? Bukankah aku berdiri di tepi teras ini, sementara kau duduk di kursi itu? Jelas-jelas kita terpisah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SaZmLC6cZEI/AAAAAAAAAjQ/nl6VlxFbe1k/s1600-h/Lingkaran+Air+05.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307041550849303618" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SaZmLC6cZEI/AAAAAAAAAjQ/nl6VlxFbe1k/s200/Lingkaran+Air+05.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Itu karena kau beranggapan, benda-benda fisik berada di luar, sementara dunia batinmu berada di dalam tubuh fisik. Kau memisahkan keduanya. Kau beranggapan, kesadaranmu berada di dalam otakmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Bukankah alam batinku memang berada dalam otakku? Hubungan alam batin dan otak, tampak jelas. Gangguan pada otak, akan menyebabkan gangguan pada kesadaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urmi tersenyum misterius, “Demikian juga Bindu, gangguan pada seruling, akan menyebabkan gangguan pada alunan tembang. Apakah itu berarti, senandung indah tembang itu, berada di dalam seruling?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm. Baiklah,” aku berjanji dalam hati, akan memikirkan hal itu lebih lanjut, “Bagaimana sesungguhnya, pandangan Bangsa Nor tentang kesadaran?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/Saj__qwAU0I/AAAAAAAAAkA/s8VRehFc0EU/s1600-h/Seruling+India+04.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307773630128608066" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 132px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/Saj__qwAU0I/AAAAAAAAAkA/s8VRehFc0EU/s200/Seruling+India+04.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Bagi Bangsa Nor, kesadaran adalah ruang yang terjadi, antara engkau dan objek-objek. Kesadaran adalah gelembung, yang terbentuk antara Yang Mengamati dan Yang Diamati. Batas-batas gelembung kesadaran, adalah objek-objek itu. Citra itu. Suara itu. Sentuhan itu. Ingatan itu. Perasaan itu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu berarti, menurut Bangsa Nor, aku bukan tubuh fisik ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau adalah kesadaranmu. Itu berarti, engkau adalah ruang antara Yang Mengamati dan Yang Diamati. Engkau adalah ruang antara niatmu dan objek-objek disekitarmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SaZopEZeRGI/AAAAAAAAAjo/dOioOxjdNiw/s1600-h/Melayang+Cewek+08.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307044265667216482" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SaZopEZeRGI/AAAAAAAAAjo/dOioOxjdNiw/s200/Melayang+Cewek+08.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Sebuah gelembung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Untuk Bangsa Nor, tiap kesadaran adalah pencipta perbedaan. Tiap perbedaan itu, menghasilkan jarak. Jarak, adalah unsur utama ruang dan waktu. Demikianlah, kesadaranmu menciptakan gelembung kesadaran ruang dan waktu. Objek-objek di sekitarmu, laksana lukisan di bagian dalam dinding gelembung kesadaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku coba memahami cara berpikir Urmi. Cara berpikir Bangsa Nor, “Ruang dalam gelembung, dan dinding gelembung itu, tidak mungkin dipisahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul. Tanpa ruang, tidak akan ada gelembung kesadaran. Demikian juga, tanpa dinding, tidak akan ada gelembung kesadaran. Kesadaranmu mensyaratkan keberadaan Yang Mengamati dan Yang Diamati, bersama-sama. Tak terpisahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307045892524212594" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 267px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SaZqHw6aAXI/AAAAAAAAAjw/SpkWP2LuLIw/s400/Kota+Refleksi+07.jpg" border="0" /&gt;“Dari sudut pandang gelembung kesadaran, tiap objek adalah bagian dari diriku. Mereka adalah citra-citra di bagian dalam dinding gelembung kesadaranku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urmi tersenyum senang, “Seperti yang kukatakan, aku memang bagian dari dirimu.”&lt;br /&gt;Aku menghembuskan nafas. Bagaimanapun, ingatan tentang Urmi memang selalu kubawa kemanapun aku pergi. *&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7413335351300705786-1175852410204996396?l=negeriparadewa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/1175852410204996396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/02/gelembung-kesadaran.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/1175852410204996396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/1175852410204996396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/02/gelembung-kesadaran.html' title='Gelembung Kesadaran'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SaZkAKAr5uI/AAAAAAAAAjA/PSuuUBzOqIk/s72-c/Negeri+Awan+06.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786.post-4234093352225069706</id><published>2009-02-07T20:34:00.012+07:00</published><updated>2009-03-01T21:50:41.443+07:00</updated><title type='text'>Sombong</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Petikan surat Bindu:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagi Bangsa Siluk, Mbah Rayung adalah pahlawan legendaris. Konon, demi kemerdekaan Bangsa Siluk, Mbah Rayung terjun ke banyak pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, saat berdiskusi tentang sejarah Bangsa Siluk, Manu menyinggung keterlibatan Mbah Rayung. Kata Manu, “Tanpa Mbah Rayung, kondisi Negeri Siluk pasti sangat jauh berbeda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300049888113718642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 265px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SY2PStjd9XI/AAAAAAAAAhw/r0EvMH4tPYk/s400/Negeri+Siluk+03.jpg" border="0" /&gt;Aku menanggapi dengan heran, “Sungguh sulit aku membayangkan, Mbah Rayung ikut serta di sebuah pertempuran. Untuk apa Mbah Rayung bertempur? Bukankah jiwanya sudah berada pada tataran tanpa keinginan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu tertawa. “Sebetulnya, banyak jiwa bijaksana telah menyelenggarakan berbagai pertempuran. Tapi memang, pertempuran ala Mbah Rayung, mungkin beda dari apa yang kau bayangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SY2RAERLE4I/AAAAAAAAAh4/WMA4SxBZpZM/s1600-h/Mbah+Rayung+05.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300051766816740226" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SY2RAERLE4I/AAAAAAAAAh4/WMA4SxBZpZM/s200/Mbah+Rayung+05.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Lagipula,” aku menggeleng, “Siapakah lawannya? Siapa yang sepadan dengan Mbah Rayung? Siapa yang demikian berbahaya, demikian kuat dan demikian sakti, yang akhirnya memaksa Mbah Rayung turun tangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu menarik napas panjang. “Seperti banyak bangsa lain di alam semesta, Bangsa Siluk pernah mengalami masa kegelapan... Pada masa itu, di hati sebagian warga Siluk, tumbuh sejumlah monster, berupa perasaan-perasaan aneh...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perasaan aneh? Perasaan apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perasaan, bahwa mereka menjadi pewaris tunggal kebenaran. Perasaan bahwa mereka tahu kebenaran mutlak. Dan berlandas perasaan itu, pihak lain yang tidak sependapat dengan mereka, harus dianggap salah mutlak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam. Merasa mengenali perasaan-perasaan itu. Apakah itu perasaan-perasaanku sendiri? Sambil mengamati gerak hatiku sendiri, aku meneliti wajah Manu. Seperti apakah, gerak hati seorang insan Siluk? Dimataku, Bangsa Siluk telah tumbuh menjadi bangsa ramah berhati sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu melanjutkan, “Berdasar perasaan-perasaan itu, mereka percaya, mereka berhak memaksakan pandangan mereka pada warga Siluk lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkinkah perasaan mereka itu benar? Aku sulit membayangkan ada sebagian warga Siluk merasa lebih bijaksana daripada sebagian yang lain. Tapi mungkin mereka memang jauh lebih cerdas, jauh lebih berpengetahuan dan dengan demikian jauh lebih bijaksana daripada warga Siluk yang lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah hal paling aneh dalam masalah ini. Mereka yang mengaku paling benar itu, sebetulnya tidak punya landasan objektif apapun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho. Jadi, dengan dasar apa mereka menyatakan pihak lain salah? Dengan dasar apa mereka menilai, pihak lain tidak sebijaksana mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SY2PAzG0bPI/AAAAAAAAAho/R3c284PdFtQ/s1600-h/Buku+Meja+04.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300049580366523634" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SY2PAzG0bPI/AAAAAAAAAho/R3c284PdFtQ/s200/Buku+Meja+04.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Biasanya, mereka berpegang pada buku-buku, yang dinyatakan sebagai ‘Diturunkan oleh Yang Sempurna’. Mereka menyatakan lebih tahu tentang alam raya, masa lalu, masa kini dan masa datang, berdasar suatu teks. Berdasar buku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Kau pernah sampaikan tentang buku-buku itu padaku. Buku-buku yang ternyata mengandung tiga jenis informasi saja: informasi keliru, informasi tidak penting, atau informasi yang tidak bisa dikonfirmasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu membenarkan, “Kira-kira begitu. Perasaan mereka, sepenuhnya subjektif. Pandangan mereka, adalah pandangan-pandangan yang bisa diperdebatkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyambung, “Jelas sekali bisa diperdebatkan, karena ada banyak buku yang mengaku ‘Diturunkan oleh Yang Sempurna’. Tiap-tiap buku punya doktrin tersendiri. Penafsiran tiap doktrin bermacam-macam, hingga muncul banyak pendapat dan kepercayaan. Semuanya, tanpa bukti atau landasan objektif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu mengangguk, “Begitulah. Maka aneh sekali, bila kelompok yang satu merasa lebih benar daripada kelompok lain, dan siap memaksakan penafsirannya pada kelompok lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SY2OvkXQNEI/AAAAAAAAAhg/vXnR5JL-ggE/s1600-h/Rasa+Aneh+03.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300049284351145026" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SY2OvkXQNEI/AAAAAAAAAhg/vXnR5JL-ggE/s200/Rasa+Aneh+03.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Aku ragu-ragu, melanjutkan, “Apakah mungkin... kelompok itu, kelompok yang merasa benar sendiri itu, sebenarnya telah kehilangan kemampuan menghargai insan-insan lain? Atau mungkin... mereka telah terlalu percaya pada dirinya sendiri...? Aku tidak percaya itu bisa terjadi pada Bangsa Siluk. Tapi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu tersenyum, “Lanjutkan saja, Bindu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila kita menyadari keterbatasan kita, bukankah kita akan selalu rendah hati terhadap pendapat kita? Kita akan selalu mengatakan ‘Bisa saja saya salah, bisa saja insan lain benar, dan dengan demikian saya tidak berani memaksakan pandangan saya pada siapapun’...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu tersenyum lebar, “Begitulah Bindu. Para ilmuwan kami, akhirnya memang menetapkan kondisi mental ‘Merasa Benar Sendiri’ itu, sebagai sejenis penyakit jiwa berbahaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penyakit jiwa? Astaga. Apakah dengan demikian, dalam pertempuran itu, Mbah Rayung memberantas insan-insan yang sebetulnya sakit? Alangkah malangnya mereka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SY2Oa__5piI/AAAAAAAAAhY/lKZZ9bcjCwU/s1600-h/Mbah+Rayung+05.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300048930992137762" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SY2Oa__5piI/AAAAAAAAAhY/lKZZ9bcjCwU/s200/Mbah+Rayung+05.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Manu tertawa. “Tentu saja tidak begitu. Bukankah sudah kukatakan, Mbah Rayung adalah pahlawan kemerdekaan? Justru, dia membebaskan banyak insan dari aneka jenis penyakit jiwa. Lawan Mbah Rayung, adalah penyakit itu sendiri. Penyakit yang kemudian disebut ‘Sindrom Ketertutupan Pikiran Bercampur Perasaan Hebat Sempurna Mudhabhimana Kronis’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meringis. Entah kenapa, nama penyakit itu terasa menggelikan. Tapi Manu belum selesai. Dia menambahkan, “Sama seperti berbagai penyakit lain, ada yang parah, ada juga yang ringan. Mbah Rayung bertempur melawan sumber gangguan itu, yang untuk mudahnya bisa dianggap sebagai sejenis virus mental.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan aksi mental Mbah Rayung. Saat kekuatan batinnya berhadapan dengan virus mental. Saat dia membebaskan banyak warga Siluk dari ketidakmampuan menghargai pandangan pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin aku punya istilah lebih sederhana untuk kelainan itu,” kataku pada Manu, “Bagaimana kalau disebut ‘Sindrom Super Sombong’ saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Manu terbahak-bahak, aku termangu. Sungguh mengherankan, bangsa semaju dan sebijaksana Siluk, pernah punya masa silam seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300052552413964098" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 266px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SY2Rty2JZ0I/AAAAAAAAAiA/vXTbFt6mDGk/s400/Langit+Hitam+01.jpg" border="0" /&gt;Lalu diam-diam, aku merasa malu dan khawatir. Dengan mengintip ke dalam hatiku sendiri, sebetulnya aku melihat, sejumlah gejala perasaan aneh...&lt;br /&gt;Aku merasa... kondisi Siluk di zaman kegelapan, tidak terlalu asing... Astaga. Aku sungguh tidak tahu, apakah virus mental berbahaya itu, sudah dimusnahkan? Mudah-mudahan ada sejenis vaksinasi canggih di Negeri Siluk ini. * &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7413335351300705786-4234093352225069706?l=negeriparadewa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/4234093352225069706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/02/sombong.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/4234093352225069706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/4234093352225069706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/02/sombong.html' title='Sombong'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SY2PStjd9XI/AAAAAAAAAhw/r0EvMH4tPYk/s72-c/Negeri+Siluk+03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786.post-4159641036958216891</id><published>2009-01-31T13:11:00.009+07:00</published><updated>2009-03-01T21:50:41.443+07:00</updated><title type='text'>Pengalaman yang Benar</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Petikan surat Bindu:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bagi manusia, keberadaan Bangsa Nor, sungguh sangat samar. Jadi suatu hari aku bertanya pada Urmi, “Apakah Bangsa Nor memang menempati ruang tertentu di alam semesta? Seperti Bangsa Manusia menempati Planet Bumi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urmi tertawa menebarkan pesona. Kecantikan Urmi, sebagai warga Negeri Nor, betul-betul tidak manusiawi. Dia berkata, “Suasana Negeri Nor, sulit dijelaskan dengan bahasa bumi. Sebetulnya, alam kita ada berdampingan. Beberapa manusia yang mampu mengalami Nor, menyebut alam Negeri Nor sebagai Alam Niskala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297337122657891074" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 267px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPsC-uDcwI/AAAAAAAAAgs/tp2IDgo76sw/s400/Planet+Asteroid+03.jpg" border="0" /&gt;“Bagi sebagian besar manusia, Negeri Nor sama dengan tidak ada.”&lt;br /&gt;Urmi tersenyum. “Bagaimana denganmu, Bindu? Kau bisa melihatku. Apakah kau beranggapan Negeri Nor tidak ada?”&lt;br /&gt;Aku memandang wajah Urmi, “Bagiku, kau memang ada. Tapi aku kesulitan membedakanmu dari ilusi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urmi tergelak, “Mengapa kau merasa perlu, untuk membedakan aku dari ilusi? Mengapa tidak kau terima saja, segala jenis pengalaman ini? Mengapa tidak kau terima saja, pemandangan indah ini, udara segar ini, percakapan ini, seperti apa adanya?”&lt;br /&gt;“Bagaimana aku tahu, ini adalah pengalaman yang benar?”&lt;br /&gt;“Apa maksudmu dengan ‘Pengalaman yang benar’?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPsVa_NMZI/AAAAAAAAAg0/i1tS7Y9i90s/s1600-h/Sulap+Terbang+03.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297337439483670930" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPsVa_NMZI/AAAAAAAAAg0/i1tS7Y9i90s/s200/Sulap+Terbang+03.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Begini, andaikan aku seorang pesulap. Suatu hari, aku menggelar pertunjukkan sulap di tepi jalan. Dengan peralatan sulap canggih, aku membuat seseorang tampak melayang di udara.”&lt;br /&gt;Urmi mengangguk, aku melanjutkan, “Nah, seorang anak secara kebetulan lewat di jalan, menyaksikan adegan itu. Dia tidak tahu, sedang berlangsung pertunjukkan sulap. Bukankah anak itu akan beranggapan, ada manusia bisa terbang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tentu begitulah pengalaman anak itu. Lalu kenapa?” Urmi tersenyum lagi. Aku tahu, dia memancingku melancarkan keberatan.&lt;br /&gt;“Kok kenapa? Bukankah pengalaman anak itu, tidak benar?”&lt;br /&gt;“Lalu, pengalaman seperti apa, yang benar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah jelas? Akulah sang pesulap. Aku tahu peristiwa sesungguhnya. Orang itu tidak benar-benar melayang di udara. Aku mengangkat orang itu dengan kawat halus. Semua itu hanya tipuan. Pengalaman itu palsu.”&lt;br /&gt;Urmi tersenyum senang. “Baiklah. Untuk menanggapi ceritamu, aku ungkapkan padamu, sedikit cerita tentang suatu bangsa yang sangat maju. Kami warga Nor, menyebut mereka Bangsa Agraja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu bangsa, yang lebih maju daripada Bangsa Nor?”&lt;br /&gt;“Tak perlu terlalu heran, Bindu,” Urmi tergelak. “Alam semesta jauh lebih luas, lebih aneh, daripada yang dapat dibayangkan. Pendek kata, teknologi mental dan material Bangsa Agraja sudah demikian maju, mereka mampu merekayasa berbagai hal, pada skala yang, bagi sebagian besar warga bumi, tak terbayangkan.”&lt;br /&gt;Aku diam, Urmi melanjutkan, “Penduduk bumi, akan menganggap karya teknologi Bangsa Agraja sebagai keajaiban atau mukjizat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPsos9ivRI/AAAAAAAAAg8/mvEjUNIc6mo/s1600-h/Dunia+Simulasi+03.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Aku mulai meraba arah pembicaraan Urmi. “Atau sulap?”&lt;br /&gt;Urmi mengangguk, “Bagai sulap. Entah untuk tujuan apa saja, mereka menciptakan banyak sekali simulasi atau realitas tiruan. Persis seperti panggung pertunjukkan sulap, panggung simulasi mereka, memiliki hukum-hukum atau aturan-aturan sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297363056880327042" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 267px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYQDojOhGYI/AAAAAAAAAhM/f6AK-aX4yts/s400/Dunia+Simulasi+03.jpg" border="0" /&gt;“Hukum-hukum yang berbeda, dengan hukum-hukum yang berlaku di ‘Alam Semesta Yang Sesungguhnya’?”&lt;br /&gt;“Tepat. Dan banyak diantara panggung simulasi mereka, tampak seperti ini, berisi planet dengan kehidupan, lengkap dengan penampakan matahari dan bintang-bintang...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ternganga. Urmi memegang pundakku, memandang lurus kedua mataku. “Tentu sekarang, kau sudah mengerti arah ceritaku. Bagaimana kau tahu, bumi tidak berada dalam salah satu simulator Bangsa Agraja?”&lt;br /&gt;Aku merasa agak sulit mencerna ini. Urmi melanjutkan, “Bukankah ada kemungkinan, posisimu serupa, dengan posisi seorang anak yang kebetulan lewat di jalan dan melihat sebuah pertunjukkan sulap?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam saja.&lt;br /&gt;“Bila kau bukan Bangsa Agraja, bagaimana kau bisa membedakan ‘Dunia Hasil Simulasi’ dari ‘Dunia Sesungguhnya’? Mungkin saja aku, gunung di hadapanmu dan awan di atasmu hanyalah bagian dari suatu alam rekaan yang sangat canggih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297338028862779762" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 267px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPs3umIsXI/AAAAAAAAAhE/cM4PBKQmf50/s400/Natsuki+Urmi+Tirai+07.jpg" border="0" /&gt;Dengan gentar, aku menggenggam telapak tangan Urmi, “Apakah kau sedang mengatakan, dirimu hanyalah semacam simulasi...?”&lt;br /&gt;Urmi tampak geli, “Aku hanya mengatakan, mungkin saja pengalamanmu sehari-hari, adalah palsu.”&lt;br /&gt;Aku memandang Urmi lekat-lekat, “Tapi kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah kau adalah bagian dari suatu simulasi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urmi terpingkal-pingkal, “Apakah bedanya? Seandainya aku tokoh di sebuah simulator, bukankah aku sendiri tidak akan menyadarinya? Lagi pula, seandainya semua ini hanyalah simulasi, apa masalahnya? Bukankah pengalaman pribadimu ini, tetap ada? Bukankah pengalaman pribadi ini, tetap benar bagimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam bertimbang-timbang. Anak kecil di jalan itu, suatu hari bisa tumbuh jadi seorang pesulap. Mungkinkah aku melintasi tabir pikiran ini, dan tumbuh menjadi sesosok Agraja? * &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7413335351300705786-4159641036958216891?l=negeriparadewa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/4159641036958216891/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/pengalaman-yang-benar.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/4159641036958216891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/4159641036958216891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/pengalaman-yang-benar.html' title='Pengalaman yang Benar'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPsC-uDcwI/AAAAAAAAAgs/tp2IDgo76sw/s72-c/Planet+Asteroid+03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786.post-7208629618123536067</id><published>2009-01-31T13:00:00.012+07:00</published><updated>2009-07-27T11:03:22.873+07:00</updated><title type='text'>Ada</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Petikan surat Bindu:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Urmi adalah anggota Bangsa Nor. Tiap insan Nor, bagiku, antara ada dan tiada. Kadang aku berpikir, saat aku bertemu Urmi, sebetulnya aku bertemu pikiranku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297334367226333362" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPpil7-iLI/AAAAAAAAAgM/SDKB0fRVFDY/s400/Gunung+Indah+03.jpg" /&gt;Urmi jelas beda dengan manusia biasa. Sering sekali, kehadiran Urmi tidak disadari. Seperti tembus pandang, dia tak terlihat.&lt;br /&gt;Aku pernah menduga, Urmi yang luar biasa cantik, hanyalah konsep atau perasaan. Semacam perwujudan kecantikan. Tiap orang merasa sentuhannya, tapi tidak semua orang menyadari penuh kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, aku berjalan kaki di lereng sebuah gunung, ketika tiba-tiba saja, Urmi berjalan di sisiku. Aku sampaikan saja lintasan pikiranku. “Urmi, apakah kau ini memang ada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPqgTQnRAI/AAAAAAAAAgk/PiWOt2WgtwI/s1600-h/Bunga+Indah+03.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; FLOAT: left; HEIGHT: 133px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297335427364504578" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPqgTQnRAI/AAAAAAAAAgk/PiWOt2WgtwI/s200/Bunga+Indah+03.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Urmi tersenyum, “Mengapa keberadaanku kau ragukan, Bindu?”&lt;br /&gt;“Jangan-jangan, kau hanyalah karya pikiranku sendiri?”&lt;br /&gt;Urmi tergelak. “Ya. Bisa saja, aku adalah ciptaan pikiranmu. Tapi sesungguhnya, bagimu, aku tetap ada.”&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;“Begini. Kau memang bisa meragukan keberadaan ‘Urmi’. Tapi kau tidak bisa meragukan keberadaan ‘Pengalaman pribadimu tentang Urmi’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku mengerutkan dahi, hingga Urmi melanjutkan, “Sangat mungkin, Urmi sebetulnya tidak ada. Atau, Urmi hanyalah sebentuk mimpi belaka. Tapi tetap saja, ‘Pengalaman pribadimu tentang Urmi’, ada.”&lt;br /&gt;“Tolong teruskan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urmi menyodorkan tangannya, yang tiba-tiba saja memegang setangkai bunga. “Apa yang kau lihat?”&lt;br /&gt;“Sekuntum bunga indah.”&lt;br /&gt;Entah bagaimana, bunga itu berubah menjadi sebutir permata. “Apa yang kau lihat?”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPpztnBOpI/AAAAAAAAAgU/O9fI8NnLXC4/s1600-h/Gadis+Permata+02.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; FLOAT: left; HEIGHT: 133px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297334661343689362" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPpztnBOpI/AAAAAAAAAgU/O9fI8NnLXC4/s200/Gadis+Permata+02.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Sebutir permata berkilauan.”&lt;br /&gt;Di depan mataku, permata itu memudar, lalu menghilang. “Apa yang kau lihat?”&lt;br /&gt;Aku menyentuh telapak tangan Urmi, memastikan permata itu memang lenyap. “Permata itu menghilang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urmi tersenyum, “Objek bisa berubah. Dan memang selalu berubah. Tapi pengalamanmu, bahwa kau melihat sesuatu, bahwa kau menyentuh sesuatu, bahwa kau mendengar sesuatu, tidak berubah. Pengalaman pribadimu ini, bahwa kau merasakan sesuatu, apapun sesuatu itu, tetap ‘Ada’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti ‘Aku meragukan, maka aku ada’? Atau ‘Aku berpikir, maka aku ada’?”&lt;br /&gt;“Mirip, tapi tidak serupa. Bukan hanya engkau yang ada. Segala bentuk pengalaman pribadimu ini, ada. Saat kau berpikir, kau menyadari, pengalaman pribadimu berisi berbagai hal.”&lt;br /&gt;“Maksudmu, dengan ‘Aku berpikir’, maka ‘Kegiatan berpikir’-lah yang ada. Bukan hanya ‘Aku’ yang ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urmi mengangguk, tersenyum. “Jalan pikiran itu berlaku, bukan hanya untuk berpikir. Itu berlaku untuk segala kegiatanmu, seperti melihat, mendengar, berjalan atau bermain.”&lt;br /&gt;Aku mengerti maksud Urmi. “Misalnya ‘Aku melihat bunga’. Itu berarti, paling sedikit, ada tiga jenis pengalaman pribadiku, yang ‘Ada’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPqNlDT5bI/AAAAAAAAAgc/6zE_TMgdPns/s1600-h/Natsuki+Urmi+Copy+07.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; FLOAT: left; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297335105723033010" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPqNlDT5bI/AAAAAAAAAgc/6zE_TMgdPns/s200/Natsuki+Urmi+Copy+07.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Urmi mengangguk-angguk, aku melanjutkan, “Pertama, ada ‘Pengalaman pribadiku tentang aku’. Kedua, ada ‘Pengalaman pribadiku tentang melihat’. Dan ketiga, ada ‘Pengalaman pribadiku tentang bunga’.”&lt;br /&gt;“Ha ha ha. Sebetulnya kau akan kesulitan memisahkan tiga hal itu. Tapi kira-kira begitulah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku coba menyimpulkan, “Meskipun hal yang kulakukan berubah-ubah, mulai dari berpikir, bermimpi, berjalan atau melihat, dengan objek yang juga berubah-ubah, mulai dari permata, bunga hingga tiada apapun juga, ‘Pengalaman pribadiku’ tetap saja ‘Ada’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urmi tersenyum lebar. “Cara berpikirmu sudah mendekati cara berpikir Bangsa Nor.”&lt;br /&gt;Aku tersenyum. Membayangkan diriku mengambang antara ada dan tiada... * &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7413335351300705786-7208629618123536067?l=negeriparadewa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/7208629618123536067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/ada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/7208629618123536067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/7208629618123536067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/ada.html' title='Ada'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPpil7-iLI/AAAAAAAAAgM/SDKB0fRVFDY/s72-c/Gunung+Indah+03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786.post-3077859468661051999</id><published>2009-01-15T15:59:00.009+07:00</published><updated>2009-03-01T21:50:41.444+07:00</updated><title type='text'>Persahabatan Sejati</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Petikan surat Bindu:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Manu mengajak aku berjalan-jalan ke salah satu sudut sebuah kota kuno. Bangsa Manu menyebut negeri mereka, Siluk. Suasana Siluk sungguh menyenangkan. Damai. Menimbulkan inspirasi. Sekarang, penduduk Siluk hidup di taman-taman. Tapi kota-kota kuno, yang bermandikan cahaya, masih mereka pertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291443255224560002" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 267px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SW77mvjL6YI/AAAAAAAAAe8/Mn9NvVuOvN8/s400/Kota+Cahaya+03.jpg" border="0" /&gt;Aku tahu, beberapa ratus tahun lalu, Bangsa Siluk melepaskan diri dari sejumlah doktrin. Doktrin-doktrin itu, berasal dari sejumlah buku. Buku-buku yang mengaku berasal dari ‘Yang Sempurna’. Singkat kata, Bangsa Siluk akhrnya beranggapan, isi buku-buku itu menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa meninggalkan aneka doktrin dari buku-buku itu, begitu saja, secara total? Seperti melompat dari hitam ke putih. Tanpa abu-abu. Tanpa transisi?&lt;br /&gt;Mengapa tidak seperti di bumi? Para pemeluk berbagai doktrin berbeda, bisa hidup berdampingan dalam jangka panjang, dengan menerapkan toleransi. Aku lontarkan pertanyaan itu pada Manu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu tersenyum, “Bindu, apakah menurutmu, dua pemeluk doktrin yang berbeda, bisa bersahabat?”&lt;br /&gt;“Tentu saja. Bila kita mengembangkan sikap toleran.”&lt;br /&gt;Manu menggeleng, “Bagi kami, itu tidak mungkin.”&lt;br /&gt;“Mengapa tidak? Di bumi, kami melakukan itu setiap waktu.”&lt;br /&gt;“Di Siluk, toleransi bertentangan dengan persahabatan sejati.”&lt;br /&gt;“Apakah kau bercanda? Bagaimana mungkin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SW8EE0klxwI/AAAAAAAAAfU/0WQMaD8rteA/s1600-h/Lava+Merah+03.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291452568061724418" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SW8EE0klxwI/AAAAAAAAAfU/0WQMaD8rteA/s200/Lava+Merah+03.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Manu melambaikan tangannya. Tiba-tiba saja, tujuh citra bercahaya tampil di sekeliling kami. Segera kusadari, tiap citra bercerita tentang sesuatu. Manu menunjuk citra-citra itu, “Lihat Bindu. Dulu, ada tujuh buku utama, dengan tujuh doktrin yang berbeda.”&lt;br /&gt;Aku mengangguk, Manu melanjutkan, “Tiap doktrin melontarkan klaim, keselamatan hanya ada pada doktrin tersebut. Menolak doktrin itu, berarti siap dilemparkan ke dalam ‘Alam Penderitaan Abadi’.”&lt;br /&gt;Aku menyambung, “Bila aku memilih salah satu doktrin, maka enam doktrin lain siap melemparku ke ‘Alam Penderitaan Abadi’.”&lt;br /&gt;“Tepat,” Manu tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak puas, “Lalu kenapa? Tidak apa-apa kan? Kalian bisa mengembangkan toleransi. Pemeluk doktrin yang satu, tidak usah mengganggu pemeluk doktrin lainnya. Kalian hidup rukun. Beres.”&lt;br /&gt;“Tidakkah kau lihat ketidaksesuaian dalam pikiranmu itu, Bindu? Bagaimana mungkin persahabatan sejati, tumbuh dalam sikap toleransi semacam itu?”&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Manu menembusku, sebelum dia menjawab, “Anggaplah ada dua warga Siluk tampak bersahabat. Dua sahabat ini, memeluk doktrin yang berbeda. Apa pandanganmu mengenai persahabatan mereka?”&lt;br /&gt;“Bagiku, mereka tampak mengesampingkan perbedaan, demi persahabatan.”&lt;br /&gt;“Bagi warga Siluk, persahabatan itu sepenuhnya palsu.”&lt;br /&gt;Aku terkejut, “Bagaimana bisa begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah jelas? Masing-masing merasa, pihak lain akan dikirim ke ‘Alam Penderitaan Abadi’.”&lt;br /&gt;Aku diam, Manu melanjutkan, “Bila kau percaya pada doktrin-doktrinmu, maka tiap kali kau pandang mata sahabatmu, kau akan berpikir ‘inilah orang yang akan dilempar ke Alam Penderitaan Abadi’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SW8EXdVdwYI/AAAAAAAAAfc/ToYt-69uknc/s1600-h/Hell+Fire+02.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291452888241783170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SW8EXdVdwYI/AAAAAAAAAfc/ToYt-69uknc/s200/Hell+Fire+02.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Aku bisa melihat sudut pandang itu. Manu meneruskan, “Bagaimana mungkin, kau punya pikiran seperti itu tentang sahabatmu, dan kau diam saja, Bindu? Bila kau mengerti beratnya ancaman doktrinmu, sungguh aneh bila kau tak bergidik, tiap kali bertemu sahabatmu! Bila kau memang sahabatnya, kau akan lakukan segala macam cara, untuk menyelamatkannya! Segala jenis cara yang terpikirkan! Tidak mungkin tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh citra tiga dimensi itu, kini memperlihatkan citra-citra menyeramkan. “Bila kau tidak ambil upaya penyelamatan, Bindu, jelas kau bukanlah sahabat sejati. Bagaimana mungkin kau biarkan sahabatmu berpotensi menjalani penderitaan tak terbayangkan hebatnya?”&lt;br /&gt;Aku tergetar, “Tapi, apa yang bisa kulakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat sekali.” Manu melembut, “Apa yang bisa kau lakukan? Tak ada bukti konkret, untuk mendukung klaim salah satu doktrin. Tak ada cara, untuk menentukan doktrin paling tepat menuju keselamatan. Maka bagi para pecinta doktrin, persahabatan berhenti disana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam, dalam hati membahas ulang sudut pandang Manu. “Tadi kau katakan, ada dua kemungkinan dari persahabatan itu. Apa kemungkinan kedua?”&lt;br /&gt;“Kemungkinan kedua, dua warga bersahabat itu, sebetulnya, telah meragukan doktrin-doktrin mereka sendiri. Keyakinan mereka, telah melemah. Dalam hati mereka merasa, apapun doktrinnya, sang sahabat akan baik-baik saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitukah prosesnya, waktu itu?”&lt;br /&gt;“Ya. Bangsa Siluk tidak mampu menduakan hati. Bila yakin pada sesuatu, mereka laksanakan itu sepenuh jiwa.”&lt;br /&gt;Aku diam, membayangkan sejenis toleransi, yang selama ini aku kenal. Manu melanjutkan, “Penduduk Siluk memutuskan, tidak melakukan toleransi jenis itu. Kami memilih persahabatan sejati. Sejak itu, kami mengembangkan berbagai jenis teknologi mental, untuk mendukung keputusan kami. Persahabatan di Siluk, tidak mengenal niat-niat tersembunyi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SW77zumoKfI/AAAAAAAAAfE/Umvzhmo0N4s/s1600-h/Kota+Malam+05.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291443478308858354" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SW77zumoKfI/AAAAAAAAAfE/Umvzhmo0N4s/s320/Kota+Malam+05.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Mungkin karena itu, aku merasa suasana di negeri Manu begitu nyaman dan melegakan. Seakan, tak ada niat buruk berkeliaran di udara. “Tak adakah diantara kalian, yang memilih membela doktrin dari bukunya?”&lt;br /&gt;Manu tersenyum, “Bagaimana mungkin? Apa landasannya? Dan siapakah yang begitu sombong, merasa doktrin bukunya lebih hebat daripada doktrin buku lain? Tanpa bukti konkret?”&lt;br /&gt;Aku menambahkan, “Pengetahuan tiap individu Siluk, kira-kira setara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu mengangguk tertawa, “Bagaimana mungkin kau melihat mata sahabatmu, sambil berkata dalam hati, ‘Aku lebih tahu daripada kamu. Aku yakin walau tanpa bukti, doktrinku benar sementara doktrinmu keliru’?”&lt;br /&gt;“Bangsa Siluk tidak lagi menengok ke belakang.”&lt;br /&gt;“Betul. Memilih persahabatan sejati, dengan sendirinya berarti segala doktrin tak berdasar, tertolak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat beberapa gedung di hadapan kami, beralih rupa. Ternyata, sebagian gedung hanyalah citra tiga dimensi, memperlihatkan penampilan kota ini, beberapa ratus tahun lalu.* &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7413335351300705786-3077859468661051999?l=negeriparadewa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/3077859468661051999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/persahabatan-sejati.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/3077859468661051999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/3077859468661051999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/persahabatan-sejati.html' title='Persahabatan Sejati'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SW77mvjL6YI/AAAAAAAAAe8/Mn9NvVuOvN8/s72-c/Kota+Cahaya+03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786.post-7219016872563419970</id><published>2009-01-10T21:07:00.006+07:00</published><updated>2009-03-01T21:50:41.444+07:00</updated><title type='text'>Lubang di Jalan</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Petikan surat Bindu:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Manu, betul-betul alergi terhadap buku-buku tertentu. Buku-buku yang mengaku ‘Diturunkan oleh Yang Sempurna’. Mereka merasa, banyak doktrin dari buku-buku itu, menutup mata mereka selama ribuan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, setelah terbitnya matahari pertama, aku menjumpai Manu di sebuah pantai. Sepertinya, dia berdiri di atas air. Lautan membentang luas, indah sekali. Anehnya, saat Manu melangkah, air dibawah kakinya memadat tepat waktu, hingga Manu seperti berjalan di daratan. Air padat itu mencair kembali, usai Manu melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWisI7Do26I/AAAAAAAAAdk/QjWb2zPFGFM/s1600-h/Bintang+Dingin+04.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289668454393752274" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 267px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWitbvO6qtI/AAAAAAAAAds/RW6N_IT5Ufg/s400/Bintang+Dingin+04.jpg" border="0" /&gt;Fenomena serupa, ternyata berlaku juga untukku. Air tiba-tiba memadat seiring langkahku. Entah, teknologi apa yang mereka terapkan disini.&lt;br /&gt;Manu menyapaku, tersenyum, “Bindu, aku tahu, kau punya pertanyaan lain tentang sikap kami terhadap ‘Buku-buku dari Yang Sempurna’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk, “Manu, bangsamu bersikap tegas terhadap buku-buku itu. Tapi aku merasa, sikap kalian mungkin terlalu keras. Dan mungkin tidak adil. Kalian sempat hidup ribuan tahun bersama buku-buku itu, bersama doktrin-doktrin itu, toh peradaban kalian tidak binasa?”&lt;br /&gt;Manu diam, aku melanjutkan, “Isi buku-buku itu, mungkin memang dangkal. Sebagian doktrin, bahkan keliru. Tapi sebagian lain, tentu berguna bukan? Aku yakin, banyak penganut buku-buku itu, berdasar nilai-nilai di buku-buku itu, telah melakukan hal-hal baik.”&lt;br /&gt;Manu tersenyum, “Kau benar Bindu. Jelas, sebagian besar penganut buku-buku itu, tidak jahat. Sebagian, bahkan menjadi sangat baik. Motivasi mereka melakukan kebaikan, suatu saat akan kita perdebatkan. Tapi memang, mereka melakukan hal-hal baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, mengapa negeri kalian menghapuskan buku-buku itu dari peredaran?”&lt;br /&gt;“Bindu, bangsa kami tidak memiliki larangan, dalam bentuk apapun. Siapa saja, boleh membaca buku apa saja. Setiap individu di negeri ini, bebas berbuat apapun. Sistem berjalan baik, karena setiap individu memahami konsekuensi tiap tindakan mereka, bagi diri mereka sendiri, atau bagi individu lain. Buku-buku itu tersisihkan dengan sendirinya, karena kesadaran yang berkembang.”&lt;br /&gt;“Kalau begitu pertanyaannya begini, mengapa setiap individu bangsa kalian, beberapa ratus tahun terakhir, menolak buku-buku itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWtpQK3gwkI/AAAAAAAAAes/DyJY28s7m4I/s1600-h/Jalan+Mulus+04.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290437913792791106" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWtpQK3gwkI/AAAAAAAAAes/DyJY28s7m4I/s200/Jalan+Mulus+04.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Tunggu sebentar.” Manu menunjuk ke udara, dan tiba-tiba saja, citra tiga dimensi dari sebuah kota di bumi, muncul dihadapan kami, “Aku sering berjalan-jalan ke beberapa tempat di bumi. Di setiap kota besar, selalu ada jalan-jalan besar, yang mulus rata. Kendaraan-kendaraan kalian, bisa dengan mudah melintas. Jalan-jalan itu, membantu penduduk kota pergi ke tujuan mereka masing-masing.”&lt;br /&gt;Aku masih memperhatikan citra tiga dimensi itu. Manu melanjutkan, “Nah kadang-kadang aku melihat, akibat berbagai hal, beberapa jalan memiliki lubang-lubang menganga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi kota-kota di bumi, memang tidak bisa dibandingkan dengan kondisi kota-kota di negeri Manu. Aku tersenyum sendiri, menanggapi, “Ya betul. Tapi bukannya tak ada usaha. Sebagai informasi, para petugas di bumi selalu menutup lubang-lubang itu, sesegera mungkin.”&lt;br /&gt;Manu menoleh padaku, “Mengapa begitu? Mengapa lubang-lubang itu tidak dibiarkan saja?”&lt;br /&gt;Aku mendongak, “Aneh! Bagaimana mungkin kau muncul dengan pertanyaan semacam itu? Apakah kau serius?”&lt;br /&gt;Manu tersenyum, “Aku hanya ingin tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng-gelengkan kepala tak percaya, “Bukankah kau tahu segalanya? Tapi baiklah. Lubang-lubang itu, jelas merupakan bahaya potensial. Pengguna jalan, bisa terperosok ke dalam lubang.”&lt;br /&gt;“Tapi mengapa perlu buru-buru ditutup? Apakah semua pengguna jalan akan terperosok ke lubang-lubang itu?”&lt;br /&gt;“Tidak dong. Tapi jelas, kita harus mengurangi risiko bagi para pengguna jalan. Risiko harus ditekan menjadi sekecil mungkin. Idealnya, tak seorangpun boleh terperosok ke lubang-lubang itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWtpfLZjvOI/AAAAAAAAAe0/Shwu_bXhdlA/s1600-h/Jalan+Lucu+05.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290438171633630434" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWtpfLZjvOI/AAAAAAAAAe0/Shwu_bXhdlA/s320/Jalan+Lucu+05.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Nah, bukankah kau sudah menjawab pertanyaanmu sendiri, Bindu? Bagi kami, buku-buku itu, adalah lubang-lubang di jalan menuju utopia. Tidak semua pengguna jalan, akan terjerumus oleh buku-buku itu. Tapi kami harus mengurangi risiko. Risiko harus ditekan menjadi sekecil mungkin. Idealnya, tak satu jiwapun boleh terperosok. Lubang-lubang harus ditutup, sesegera mungkin.”&lt;br /&gt;Aku diam. Manu melambai, dan citra tiga dimensi itu meredup... * &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7413335351300705786-7219016872563419970?l=negeriparadewa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/7219016872563419970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/lubang-di-jalan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/7219016872563419970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/7219016872563419970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/lubang-di-jalan.html' title='Lubang di Jalan'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWitbvO6qtI/AAAAAAAAAds/RW6N_IT5Ufg/s72-c/Bintang+Dingin+04.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786.post-472783465897577386</id><published>2009-01-09T16:24:00.020+07:00</published><updated>2009-03-01T21:50:41.444+07:00</updated><title type='text'>Hak Bertanya</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Petikan surat Bindu:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Manu, berjalan santai di tepi sungai cahaya. Beberapa jenis mahluk, seperti bola-bola cahaya aneka warna, bergerak lincah di tengah sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat perbincangan sebelum ini. Manu mengatakan, pada suatu masa, doktrin dari sejumlah buku, membelenggu kehidupan penduduk negeri ini. Buku-buku itu, mengaku berasal dari ‘Yang Sempurna’. Baru sekitar tiga ratus tahun lalu, mereka bebas dari belenggu. Mereka akhirnya menyadari, isi buku-buku itu sebetulnya memiliki dua kualitas saja: keliru atau dangkal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWimtffbocI/AAAAAAAAAdU/ehJ4SbvMlLs/s1600-h/Sungai+Indah+05.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289936855251382546" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 267px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWmhiuWBcRI/AAAAAAAAAek/r2uvsdjxnEo/s400/Sungai+Indah+05.jpg" border="0" /&gt;Aku agak heran. Bila memang dangkal, mengapa isi buku-buku itu bisa menggenggam hidup jutaan jiwa, sepanjang ratusan generasi? Waktu itu Manu menjawab, “Karena ancaman. Perhatikan isi salah satu buku: ‘Aku Yang Sempurna. Aku mengutuk dan menjatuhkan penderitaan, untuk mereka yang meragukan Aku’. Bagaimanapun, kami punya rasa takut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum puas. Di tepi sungai itu, setelah berpikir sejenak, kusampaikan lagi pandanganku, “Manu, bila buku-buku itu memang berasal dari Yang Sempurna, bukankah terserah pada Yang Sempurna, untuk menentukan informasi yang akan disampaikan?”&lt;br /&gt;Manu diam, maka aku melanjutkan, “Bagaimana bisa, kita menilai isi buku-buku itu keliru, atau dangkal, atau tak mencukupi? Mengapa kita beranggapan isi buku-buku itu harus begini, atau harus begitu? Mengapa kita sok pintar?”&lt;br /&gt;Aku memandang wajah mozaik Manu, menambahkan, “Bukankah seharusnya, kita tinggal terima saja? Seharusnya kita percaya saja? Dialah Yang Sempurna, sementara kita Yang Tidak Sempurna. Dia lebih tahu kebutuhan kita. Apa hak kita, untuk bertanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWijJtxJOXI/AAAAAAAAAck/7jRRHp07nRc/s1600-h/Pintu+Aneka+02.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWilyz8lqFI/AAAAAAAAAdM/pXxW9CPk_s4/s1600-h/Pintu+Aneka+03.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Manu tersenyum, memandangku, lalu melemparkan pandangan ke angkasa, “Aku punya pandangan, tentang hak bertanya itu. Akan kusampaikan padamu. Tapi sebelumnya, bolehkah aku menceritakan sebuah dongeng, yang sangat terkenal disini? Dongeng yang dikenal sebagai kisah tujuh pintu.”&lt;br /&gt;“Tentu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWmD4W4kDtI/AAAAAAAAAeU/Q-A3JiIuwNY/s1600-h/Pintu+Aneka+05.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWmEcKKFkrI/AAAAAAAAAec/x6UnRBUs7mk/s1600-h/Pintu+Aneka+03.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289904856621224626" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 263px; CURSOR: hand; HEIGHT: 252px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWmEcKKFkrI/AAAAAAAAAec/x6UnRBUs7mk/s320/Pintu+Aneka+03.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Alkisah, pada zaman sebelum sejarah dimulai, di sebuah pulau kecil, hidup seorang guru terkenal. Dia dianggap bisa membentuk anak-anak nakal, menjadi muda-mudi impian. Para orang tua, biasa menyerahkan anak-anak mereka pada guru ini.”&lt;br /&gt;Dalam hati aku tersenyum. Di tempat seperti ini, tetap saja aku mendengar kisah, yang mengingatkan aku pada bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu melanjutkan, “Setiap tahun, Sang Guru menyelenggarakan sebuah permainan. Setiap murid, walau masih kecil, harus ikut serta.”&lt;br /&gt;“Aku tak menyangka menemukan kisah tentang orang tua dan anak-anak, di tempat ini.”&lt;br /&gt;Manu tampak senang, “Kau akan heran, menemukan betapa banyak kisah sejenis itu, disini. Nah, permainan Sang Guru, adalah permainan mencari harta karun. Dalam permainan, para murid dihadapkan pada tujuh buah pintu. Dibalik salah satu pintu, terdapat harta karun, berupa rahasia pengetahuan Sang Guru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWii04PM3GI/AAAAAAAAAcc/8SVbxPFLLbQ/s1600-h/Pintu+Aneh+07.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWipokoiejI/AAAAAAAAAdc/EqyOlaHw2DQ/s1600-h/Pintu+Aneh+05.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWmCBucENfI/AAAAAAAAAd0/yEhsFp_-PkI/s1600-h/Pintu+Aneh+09.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWmDT2JjLJI/AAAAAAAAAeE/k0biFP4yfNs/s1600-h/Pintu+Aneh+05.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289903614299679890" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWmDT2JjLJI/AAAAAAAAAeE/k0biFP4yfNs/s200/Pintu+Aneh+05.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Menarik juga. Apa petunjuknya?”&lt;br /&gt;“Di depan setiap pintu, terdapat papan pengumuman, berisi promosi tentang pintu tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWilleVkpEI/AAAAAAAAAdE/wT8zE8bT5HA/s1600-h/Pintu+Aneh+05.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Bagaimana kita tahu, pengumuman itu benar?”&lt;br /&gt;“Tidak bisa dilakukan dari luar. Satu-satunya jalan, dengan masuk ke pintu tersebut.”&lt;br /&gt;“Oh begitu. Kalau begitu mudah. Uji saja, dari pintu ke pintu. Bila satu pintu terbukti tidak benar, kita pindah ke pintu berikutnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangnya, tidak bisa begitu. Setelah masuk ke salah satu pintu, si anak tidak bisa keluar lagi. Anak itu menjadi milik pintu itu.”&lt;br /&gt;“Lho, jadi bagaimana cara para murid menentukan, pintu dengan pengumuman yang benar?”&lt;br /&gt;“Berdasar keyakinan. Atau intuisi. Atau keberuntungan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaga. Absurd sekali! Tapi baiklah, toh ini hanya permainan saja. Apa yang terjadi, bila seorang anak masuk ke pintu yang salah?”&lt;br /&gt;“Sang Guru menyediakan ular-ular raksasa berbisa, dibalik enam pintu yang salah. Anak-anak yang salah perhitungan, akan menderita, menjadi mangsa ular-ular berbisa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWikwa-PzpI/AAAAAAAAAc0/_t2bwvbUdWo/s1600-h/Ular+Kayu+03.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289658914127728274" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWikwa-PzpI/AAAAAAAAAc0/_t2bwvbUdWo/s200/Ular+Kayu+03.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Alangkah mengerikan!” Aku terlonjak, “Dan betapa menyeramkan guru itu! Kenapa dia bisa terkenal? Sungguh tidak bermoral. Dan orang tua yang tega membawa anak mereka kepada guru itu, pasti orang tua tidak bertanggung jawab. Apa maksud cerita ini? Untunglah itu hanya dongeng saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, itu bukan dongeng.”&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;“Itulah konsep yang dibawa beberapa buku. Buku-buku yang mengaku berasal dari Yang Sempurna.”&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWiiepuEnuI/AAAAAAAAAcU/RWrJ0jvkCvY/s1600-h/Ular+Kayu+03.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Buku-buku itu minta kami percaya, tanpa bukti. Minta kami masuk ke sebuah pintu, hanya berdasar kepercayaan atau intuisi.”&lt;br /&gt;Manu diam lalu melanjutkan, “Untuk mereka yang tidak percaya, tiap buku menjanjikan ancaman mengerikan. Jauh lebih mengerikan, daripada sekedar jadi mangsa ular berbisa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah semak di dekat Manu, tiba-tiba berubah menjadi sebuah meja, dengan dua cangkir diatasnya. Dunia Manu betul-betul dunia berteknologi super maju. Manu meraih salah satu cangkir, melanjutkan, “Di hadapan Sang Guru, kami semua adalah anak-anak lemah tak berpengetahuan. Dengan tiba-tiba, kami harus berada di depan salah satu pintu. Itulah situasi yang kami hadapi, selama ribuan tahun, saat doktrin dari buku-buku itu berkuasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWilKTMkqJI/AAAAAAAAAc8/Vxen3H6PeFg/s1600-h/Ular+Kayu+03.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWmCWCXmZvI/AAAAAAAAAd8/ytyGacjioTo/s1600-h/Ular+Kayu+04.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWmDfGDYkaI/AAAAAAAAAeM/LSG0UQdmZBk/s1600-h/Ular+Kayu+03.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289903807547347362" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWmDfGDYkaI/AAAAAAAAAeM/LSG0UQdmZBk/s200/Ular+Kayu+03.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Aku menarik napas panjang, “Ancaman yang dihadapi anak-anak itu, sungguh berat.”&lt;br /&gt;Manu meletakkan cangkirnya, “Dan apakah itu adil? Bukan kemauan mereka, untuk berada di sekolah mengerikan itu. Tanpa izin mereka, mereka ditempatkan disana.”&lt;br /&gt;Aku mengangguk, “Karena risiko permainan itu demikian besar, sudah seharusnya Sang Guru menyediakan petunjuk lebih jelas. Petunjuk yang tak mungkin disalah-artikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitukah menurutmu?”&lt;br /&gt;“Ya. Bahkan, bila ada seorang anak yang tak mampu membaca petunjuk, dan anak itu terancam masuk ke pintu yang keliru, sudah seharusnya Sang Guru menarik tangan anak itu. Memeluknya. Menyelamatkannya.”&lt;br /&gt;Manu tersenyum, “Maafkan aku Bindu. Cerita ini tampak mengganggumu.”&lt;br /&gt;Aku mereguk cairan biru dari cangkir kristal itu, “Dan mengapa guru itu, tidak membuang saja semua ularnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu mengangguk, “Nah. Masihkah kau ragukan, hak-mu untuk bertanya, Bindu?”&lt;br /&gt;Aku memandang kejauhan, kepada sebuah menara cahaya, yang menjulang dari sebuah kota. Aku merasa aman berada di negeri milik bangsa Manu. Tempat mereka bermeditasi bersama, beberapa ratus tahun terakhir... *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7413335351300705786-472783465897577386?l=negeriparadewa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/472783465897577386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/hak-bertanya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/472783465897577386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/472783465897577386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/hak-bertanya.html' title='Hak Bertanya'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWmhiuWBcRI/AAAAAAAAAek/r2uvsdjxnEo/s72-c/Sungai+Indah+05.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786.post-5017602557737039109</id><published>2009-01-01T22:06:00.029+07:00</published><updated>2009-03-01T21:50:41.444+07:00</updated><title type='text'>Atom Alam Semesta</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Petikan surat Bindu:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Urmi, sungguh misterius.&lt;br /&gt;Betulkah dia ada? Apakah dia nyata, seperti tubuhku nyata?&lt;br /&gt;Karena tidak semua orang, kuduga, menyadari kehadiran Urmi.&lt;br /&gt;Di tengah keramaian, orang menyapaku, tapi tidak menyapa Urmi.&lt;br /&gt;Di jalan, orang berbicara padaku, tidak pada Urmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SVzcqHvpDrI/AAAAAAAAAYk/XU4jvapW24Q/s1600-h/Natsuki+Urmi+FIN+01.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Jangan-jangan, Urmi hanyalah kreasi pikiranku sendiri?&lt;br /&gt;Tidak mungkin. Urmi tahu banyak hal, yang aku tidak tahu. Dia mampu melakukan banyak hal, yang aku tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SVzel7OOU2I/AAAAAAAAAYs/c8Ru-Td5lmI/s1600-h/Natsuki+Urmi+FIN+01.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pagi itu, aku duduk bersisian dengan Urmi, di tepi sebuah kolam. Cahaya matahari pagi, memantul keemasan, di atas permukaan air.&lt;br /&gt;Aku meraih kolam, menampung segenggam air dengan dua belah telapak tangan, mengamatinya di depan Urmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288222640037212834" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 267px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWOKeRCYsqI/AAAAAAAAAbU/M5OPiTLuxVo/s400/Natsuki+Urmi+FIN+01.jpg" border="0" /&gt;“Lihat Urmi, di tanganku, di hadapan matahari, air ini tampak berkerlip-kerlip. Ketika jumlah air di tanganku ini berkurang, kemana hilangnya kilau cahaya itu? Bagiku, ini sangat menakjubkan. Sifat suatu benda, ternyata bisa sangat berbeda, dari sifat komponen penyusunnya. Sifat air, sungguh beda dari sifat Hidrogen atau sifat Oksigen. Penampilan alam ini sungguh beda, dengan penampilan atom-atom penyusunnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urmi tersenyum, “Bindu, alam semesta bukan terdiri dari atom-atom.”&lt;br /&gt;Aku menengok ke arah Urmi, “Bagaimana mungkin? Para ilmuwan telah mengungkap eksistensi atom dengan beragam cara. Verifikasi tentang kenyataan itu, sudah tak terhitung lagi. Pada titik tertentu, segala benda di alam ini, terdiri dari atom-atom.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWif91BNAFI/AAAAAAAAAcE/uqO9H2DW7DM/s1600-h/Atom+Atom+04.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWiglBWozrI/AAAAAAAAAcM/MoI2UyQlhbA/s1600-h/Atom+Atom+04.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289654320225636018" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWiglBWozrI/AAAAAAAAAcM/MoI2UyQlhbA/s200/Atom+Atom+04.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Bukankah kemudian ditemukan, atom-atom bukan bahan paling mendasar dari benda-benda? Atom-atom, masih bisa dipecah lagi.”&lt;br /&gt;“Memang kemudian ditemukan partikel-partikel sub-atom, sebagai pembentuk atom-atom.”&lt;br /&gt;“Apakah kemudian, partikel sub-atom itu dianggap sebagai bahan dasar segala benda?”&lt;br /&gt;“Hm. Memang kemudian ditemukan juga, aneka partikel penyusun partikel sub atom. Lebih mendasar daripada sub-atom. Mungkin bisa disebut partikel sub-sub-atom.”&lt;br /&gt;“Apakah kau menduga, perburuan partikel dasar sudah berhenti disitu?”&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu. Apakah para ilmuwan itu, keliru?”&lt;br /&gt;Urmi tersenyum, “Tidak. Tapi dari sudut pandangku, mereka hanya melihat setengah cerita.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;“Begini. Coba sebutkan suatu tempat di alam semesta ini. Syaratnya, tempat itu tidak pernah diamati oleh siapapun.”&lt;br /&gt;“Bagaimana mungkin? Justru karena pernah diamati dan dikenali, maka tempat itu bisa disebutkan!”&lt;br /&gt;“Tepat. Pengamat, tidak bisa dilepaskan dari hasil pengamatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWGXKoITswI/AAAAAAAAAZc/jZ1b_OpYENk/s1600-h/Kubus+05.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Tunggu dulu. Bukankah itu permainan kata-kata saja? Tentu tetap ada sesuatu di luar sana, terlepas dari pengamatan kita?”&lt;br /&gt;“Sebetulnya, itu keberadaan yang tidak ada artinya. Segala hal jadi berarti, saat berada dalam pengamatan kita. Dan ini bukan permainan kata-kata. Ini sifat dasar alam semesta.”&lt;br /&gt;“Selama ada yang diamati, juga ada yang mengamati.”&lt;br /&gt;“Betul. Kadang kita menyebut mekanisme ini, sebagai ‘kesadaran’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWOJGZ9Ri4I/AAAAAAAAAbE/_9if4t9-o2o/s1600-h/Kubus+05.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWOKNYd4GMI/AAAAAAAAAbM/kvx66tTfpUw/s1600-h/Kubus+05.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288222349973788866" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWOKNYd4GMI/AAAAAAAAAbM/kvx66tTfpUw/s200/Kubus+05.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Baiklah. Anggap aku mengakuinya. Apa hubungannya dengan atom-atom?”&lt;br /&gt;“Atom-atom itu tidak ada. Yang ada, adalah ‘kesadaran tentang atom’.”&lt;br /&gt;“Maksudmu, di tingkat apapun, alam semesta terbentuk dari yang diamati dan yang mengamati, sebagai satu kesatuan.”&lt;br /&gt;“Betul. Itulah pengalamanku. Menyebut alam semesta tersusun dari atom-atom, sama seperti menyebut kubus terbentuk dari tiga bidang.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Padahal kubus terdiri dari enam bidang. Tiga bidang saja, tidak bisa membentuk kubus.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Ya. Seberapa keras-pun kita meneliti tiga bidang itu, kita tak kan pernah memahami bentuk lengkap kubus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam saja, tetap bertanya-tanya dalam hati. Aku melihat Urmi tersenyum lagi. Tak heran, kelihatannya, Urmi bisa merasakan isi pikiran. Aku basuh saja wajahku, dengan air kolam segar berkilauan itu. *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7413335351300705786-5017602557737039109?l=negeriparadewa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/5017602557737039109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/atom-alam-semesta.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/5017602557737039109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/5017602557737039109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2009/01/atom-alam-semesta.html' title='Atom Alam Semesta'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWOKeRCYsqI/AAAAAAAAAbU/M5OPiTLuxVo/s72-c/Natsuki+Urmi+FIN+01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7413335351300705786.post-2194915334655254320</id><published>2008-12-28T21:22:00.040+07:00</published><updated>2009-07-27T11:01:43.469+07:00</updated><title type='text'>Buku dari Yang Sempurna</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Petikan surat Bindu:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Aku tiba di pondok kecil kediaman Mbah Rayung, di pinggir hutan, saat matahari baru saja terbit. Suasana sekitar memang menyenangkan. Udara sejuk berpadu dengan pemandangan indah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Seperti biasa, Mbah Rayung sudah tahu kedatanganku. Pintu dibuka sebelum aku masuk ke pekarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWG3o5XXdPI/AAAAAAAAAZk/WFUNjUzqIQU/s1600-h/Kampung+Manu+FIN+04.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Singkat kata, setelah duduk dan berbincang sejenak, Mbah Rayung menyentuh keningku dengan jempolnya. Tiba-tiba saja, aku menyaksikan kami berdua, aku dan Mbah Rayung, telah berdiri di tepi sebuah sungai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, air sungai itu berpendar indah. Saat menengadah, aku melihat benda mirip Planet Saturnus, mendominasi pemandangan di langit. Selain itu, dua buah bintang besar cemerlang, bersinar di angkasa. Indah sekali! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288209342789368338" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWN-YQ7cuhI/AAAAAAAAAac/PVRLjHSHQSY/s400/Kampung+Manu+FIN+04.jpg" /&gt;Lalu aku menyadari, kami berada dalam sebuah kubah raksasa. Kubah tembus pandang itu, didukung kerangka geometris tipis menakjubkan. Teknologi yang belum aku kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SVt5CR_qz4I/AAAAAAAAAX0/g-RekRSHD8o/s1600-h/Nina+Manu+FIN+01.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SV7kOjQJKlI/AAAAAAAAAY0/uzWVdcZYmf4/s1600-h/Nina+Manu+FIN+01.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SV7tEnq4WSI/AAAAAAAAAY8/zQn8GU1B-QM/s1600-h/Nina+Manu+FIN+02.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SV7x9SugPII/AAAAAAAAAZE/Xw4vQh0j1VI/s1600-h/Nina+Manu+FIN+03.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Tak lama kemudian, sosok yang tak asing lagi, mewujud dihadapan kami berdua. Kenalan lama, bernama Manu. Kami memang punya janji pertemuan. Tapi aku tak menyangka, akan bertemu dia di tempat eksotik ini. Kuduga, inilah kampung halaman Manu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SV7kOjQJKlI/AAAAAAAAAY0/uzWVdcZYmf4/s1600-h/Nina+Manu+FIN+01.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SV7tEnq4WSI/AAAAAAAAAY8/zQn8GU1B-QM/s1600-h/Nina+Manu+FIN+02.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SV7x9SugPII/AAAAAAAAAZE/Xw4vQh0j1VI/s1600-h/Nina+Manu+FIN+03.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setelah saling memberi salam, kami berbincang-bincang (Aku merasa, istilah ‘berbincang-bincang’ kurang tepat. Mungkin lebih tepat ‘tukar menukar pengertian’. Aku sungguh tidak mampu menjelaskan, bentuk bahasa yang kami pakai disini). Dengan tafsir bebas, salah satu ‘perbincangan’, berlangsung kira-kira sebagai berikut... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWOOKngfH3I/AAAAAAAAAbs/frw1ujTpzgQ/s1600-h/Buku+Meja+04.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; FLOAT: left; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288226700518170482" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWOOKngfH3I/AAAAAAAAAbs/frw1ujTpzgQ/s200/Buku+Meja+04.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Manu menunjuk sebuah buku di atas meja, “Bindu, kau tahu apa itu?”&lt;br /&gt;Tidak mengerti maksud Manu, aku menggeleng. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Manu melanjutkan, “Itu simbol salah satu cara berpikir. Gagasan dari buku itu, menguasai hidup sebagian besar penduduk negeri ini, sepanjang ratusan generasi. Pada suatu masa, informasi dalam buku itu dinilai tak terbantahkan dan mengandung kebenaran final. Dikatakan, buku itu datang langsung dari Yang Sempurna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWN2BrkYsPI/AAAAAAAAAZ8/IeDhJuiVPBM/s1600-h/Buku+Meja+04.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Langsung dari Yang Sempurna? Siapa yang mengatakan itu?”&lt;br /&gt;Manu tersenyum, “Buku itu sendiri. Itu disebut di dalam buku.”&lt;br /&gt;“Bukankah klaim seperti itu, sangat subyektif? Mengandung konflik kepentingan, dan dengan demikian, meragukan?”&lt;br /&gt;“Dulu, klaim itu terasa normal. Sekarang, tentu saja, tak satupun warga negeri ini, percaya pada klaim itu.”&lt;br /&gt;“Begitukah?”&lt;br /&gt;“Tak terhindarkan. Bagaimanapun, sejumlah jiwa kritis bisa melihat, klaim-klaim buku itu sebetulnya sangat meragukan, tidak layak dipercaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan bagaimana itu terjadi, “Klaim-klaim dalam buku itu, akhirnya disadari, tidak sesuai dengan kenyataan.”&lt;br /&gt;“Tepat. Setelah beberapa milenium, hampir seluruh penduduk negeri ini menyadari, sebagian klaim di buku itu, keliru.”&lt;br /&gt;“Sebagian klaim?”&lt;br /&gt;“Betul. Sebagian klaim, keliru.”&lt;br /&gt;“Lalu, sebagian yang lain?”&lt;br /&gt;Manu tersenyum, “Sebagian yang lain, tidak berharga.”&lt;br /&gt;“Apa maksud tidak berharga?”&lt;br /&gt;“Maksudnya, sebagian klaim di buku itu, tidak punya makna apa-apa. Tidak menambah pengetahuan kami. Disini, kami menyebut klaim-klaim seperti itu, informasi tidak berharga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SV8hVSM6ePI/AAAAAAAAAZU/3POKHZ71kn8/s1600-h/Nina+Manu+FIN+03.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Bisa beri contoh?”&lt;br /&gt;Manu tampak senang, “Baik. Misalnya buku itu menyebutkan ‘Aku Yang Sempurna, pencipta bintang-bintang’. Atau, ‘Aku pencipta sungai. Air telah turun, untuk kamu minum.’ Buku itu, penuh dengan klaim-klaim semacam itu.”&lt;br /&gt;“Mengapa klaim seperti itu dianggap tidak berarti?”&lt;br /&gt;“Pernyataan-pernyataan seperti itu, tidak menambah pemahaman kami tentang alam semesta. Perhatikan contoh ‘Aku Yang Sempurna, pencipta bintang-bintang’. Klaim itu, tidak bisa dikonfirmasi dengan cara apapun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah bisa dibuktikan, bahwa klaim itu salah?”&lt;br /&gt;“Memang tidak bisa,” Manu menampilkan ekspresi serius, “Tapi sebetulnya, pencipta bintang-bintang bukan Yang Sempurna, melainkan Dewa Zeus.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 266px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297327785894621234" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SYPjjgkOMDI/AAAAAAAAAgE/ZQ_We2P2qCo/s400/Plato+Athena+09.jpg" /&gt;Aku terpingkal-pingkal, “Bercanda kan? Apa dasarnya? Apa buktinya?”&lt;br /&gt;Manu tersenyum, “Apakah bisa dibuktikan, bahwa klaim itu salah?”&lt;br /&gt;Aku mengerti maksud Manu. Klaim yang dia sebutkan, tidak bisa disalahkan. Tapi dengan demikian, juga tidak bisa dibenarkan. Klaim-klaim seperti itu, tidak berhubungan dengan kenyataan. Bagi mereka, klaim-klaim sejenis, simply tidak berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jenis lain klaim tak berharga,” lanjut Manu, “Klaim yang ‘semua orang juga sudah tahu’. Misalnya klaim ‘Air telah turun, untuk kamu minum’. Sejujurnya, aku belum menemukan warga negeri ini, yang tidak tahu, bahwa dia perlu minum air.”&lt;br /&gt;“Mungkin kau tidak serius mencari?”&lt;br /&gt;Manu terbahak-bahak, “Bindu, kami tidak perlu buku dari Yang Sempurna, untuk memberi tahu kami hal semacam itu. Itu informasi tanpa guna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum menyerah,“Manu, apa salahnya tanpa guna?”&lt;br /&gt;“Bayangkan ini. Suatu hari, seorang asing datang kepadamu. Dia mengaku ahli di bidang astronomi. Entah mengapa, dia bermaksud mengajarimu ilmu astronomi. Walau heran, kau setuju dan mengundang orang itu masuk ke rumahmu. Tapi sebelumnya, apa gambaranmu tentang ahli astronomi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWN1jIgBwFI/AAAAAAAAAZ0/0VTUIWPhLkc/s1600-h/Gugus+Bintang+02.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; FLOAT: left; HEIGHT: 214px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288199633900781650" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWN1jIgBwFI/AAAAAAAAAZ0/0VTUIWPhLkc/s320/Gugus+Bintang+02.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Ahli astronomi? Hm. Pria berjenggot. Punya teropong pribadi di belakang rumah. Mengetahui hukum-hukum utama gerak benda-benda langit. Mengenal sifat ribuan jenis benda angkasa, mulai dari materi gelap hingga lubang hitam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah. Maka kau persilakan si ahli astronomi berbicara. Satu jam kemudian, kau berulangkali mendengar dia mengatakan ‘Matahari terbit di sebelah timur’ dan ‘Bulan tampak indah dari bukit ini’ atau ‘Siang selalu diikuti malam, dan malam diikuti siang’. Bagaimana pendapatmu?”&lt;br /&gt;Aku tersenyum, “Mungkin saya akan berteriak ‘Anda buang-buang waktu saya!’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitulah.”&lt;br /&gt;Aku berpikir, “Mungkin ahli astronomi itu, eh, rendah hati.”&lt;br /&gt;Manu tertawa, “Tapi dia menawarkan diri, untuk mengajarimu tentang astronomi.”&lt;br /&gt;“Mungkin dia menguji saya. Dia ingin tahu, mampukah saya tetap percaya pada dia, meskipun dia telah tampil idiot. Mungkin setelah itu dia akan bertanya, ‘Mana yang kau percaya, saya atau bukti-bukti?’ Begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manu terpingkal-pingkal, “Singkatnya, orang asing itu tak mampu tampil meyakinkan sebagai ahli astronomi. Jadi, satu hal tampak jelas disini.”&lt;br /&gt;“Apa itu?”&lt;br /&gt;“Telah muncul keraguan di dalam hatimu.”&lt;br /&gt;“Ya, itu jelas. Sudah muncul keraguan. Lalu kenapa?”&lt;br /&gt;“Pikiran dan hatimu, mulai menuntut penjelasan.”&lt;br /&gt;“Mungkin. Atau, aku anggap saja itu sebagai lelucon.”&lt;br /&gt;“Pertimbangkan lagi. Sebetulnya, kau punya janji pertemuan dengan kekasihmu yang cantik. Tapi si ahli astronomi itu, dengan agak memaksa, memintamu mendengarkan dia bicara, satu hari penuh.”&lt;br /&gt;“Aku akan lempar dia keluar dari rumah.”&lt;br /&gt;“Tepat sekali. Itulah yang terjadi di negeri ini, sekitar tiga ratus tahun lalu. Kesabaran sudah habis. Mayoritas penduduk telah sadar. Kami lemparkan ahli gadungan itu keluar dari rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Manu, saya penasaran. Sebetulnya pengetahuan super seperti apa, yang kalian harapkan? Jangan-jangan, informasi dalam buku itu sebetulnya sudah hebat? Jangan-jangan, harapan kalian terlalu tinggi?”&lt;br /&gt;Wajah mozaik Manu, kini menampilkan ekpresi prihatin, “Wahai Bindu, mana mungkin? Kau berbicara tentang Yang Sempurna. Setidaknya, pahamilah konsep ‘Yang Sempurna’. Tak ada harapan yang terlalu tinggi untuk Yang Sempurna! Dia lebih sempurna, daripada harapan apapun yang bisa dilayangkan!”&lt;br /&gt;“Aku mendengarkan.”&lt;br /&gt;“Jangan bela Yang Sempurna. Dengan membelanya, kau menempatkan Yang Sempurna sebagai Yang Lemah. Bila suatu informasi memang datang dari Yang Sempurna, informasi itu akan tampil sempurna, dan segenap penduduk negeri ini tanpa ragu akan tunduk dihadapannya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Jadi klaim buku itu, sama sekali tidak sepadan dengan klaim Yang Sempurna.”&lt;br /&gt;“Bukan hanya tidak sepadan. Hampir seluruh informasi dalam buku itu, inferior dibanding pengetahuan umum.”&lt;br /&gt;“Bisa dijelaskan?”&lt;br /&gt;“Lingkup pengetahuan buku itu, sangat terbatas. Seperti pengetahuan yang dimiliki sekelompok penduduk, di salah satu wilayah kecil, beberapa milenium lalu.”&lt;br /&gt;“Penulis buku tidak tahu hal-hal yang berada diluar wilayahnya. Apalagi diluar zamannya.”&lt;br /&gt;“Betul. Buku itu mengaku tahu proses penciptaan alam semesta. Meskipun demikian, tidak ada informasi apapun, misalnya, tentang posisi negeri ini terhadap matahari kembar kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin pengetahuan itu terlalu maju?”&lt;br /&gt;“Tepat sekali. Pengetahuan masa kini, terlalu maju untuk buku itu. Padahal, adakah pengetahuan yang terlalu maju bagi Yang Sempurna?”&lt;br /&gt;“Hm...”&lt;br /&gt;“Contoh lain, buku itu bahkan tidak tahu, panjang hari di belahan lain negeri ini, berbeda dari panjang hari di dusun tempat buku itu turun.”&lt;br /&gt;“Alangkah terbatasnya.”&lt;br /&gt;“Dan berbahaya. Buku itu mengharuskan para pengikutnya, melaksanakan sejumlah ritual, berdasarkan panjang hari. Bayangkan, bagaimana perang terjadi di masa lalu, ketika wilayah-wilayah dengan panjang hari berbeda, menolak melakukan ritual tersebut.”&lt;br /&gt;“Terjadilah pembantaian.”&lt;br /&gt;“Demikianlah zaman kegelapan dibawa masuk oleh buku itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SVeL7jERh3I/AAAAAAAAAXc/iewRMVEtUeQ/s1600-h/Nina+Manu+01.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWTVa9VzMDI/AAAAAAAAAb0/mGxm50vHgyk/s1600-h/Buku+Meja+04.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; FLOAT: left; HEIGHT: 134px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288586521559117874" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWTVa9VzMDI/AAAAAAAAAb0/mGxm50vHgyk/s200/Buku+Meja+04.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;“Tentu ada sisi baik buku itu?”&lt;br /&gt;“Perhatikan Bindu. Tak terhitung penduduk negeri ini, disebut Ahli Buku, mengorbankan tenaga, pikiran dan waktu, mempelajari isi buku itu. Coba pertimbangkan, bila buku itu memang mengandung pengetahuan sempurna maha tinggi, apa dampaknya?”&lt;br /&gt;“Para Ahli Buku akan jadi mahluk-mahluk super, dengan pengetahuan maha tinggi, tak terbedakan dengan dewa.”&lt;br /&gt;“Tepat sekali. Tapi kenyataannya, dibandingkan dengan ilmuwan manapun, pemahaman para Ahli Buku tentang alam semesta, jauh tertinggal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku coba pikirkan sudut pandang lain, “Mungkin begini. Buku itu memang berasal dari Yang Sempurna. Tapi isi buku, disesuaikan dengan pengetahuan dan pemahaman penduduk saat itu.”&lt;br /&gt;Manu tersenyum, “Itu salah satu kemungkinan. Tahukah engkau, konsekuensi kemungkinan itu?”&lt;br /&gt;Aku menghembuskan napas, “Ya. Itu artinya, pengetahuan yang turun lewat buku itu, lagi-lagi, pengetahuan biasa. Bukan pengetahuan super.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Disini, kami telah pertimbangkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, buku itu datang dari Yang Sempurna, tapi berisi informasi biasa. Kemungkinan kedua, buku itu karya manusia biasa, karena itu berisi informasi biasa. Dengan kata lain sama saja, pengetahuan buku itu, tidak istimewa.”&lt;br /&gt;“Bisa dihasilkan oleh banyak warga negeri ini, tanpa klaim macam-macam.”&lt;br /&gt;“Tepat. Klaim-klaim tentang keistimewaan buku itu, jadi tidak bermakna. Tanpa buku itu, peradaban negeri ini mungkin jauh lebih cepat maju.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merenung sejenak, “Tapi Manu tetap saja, kemungkinan bahwa buku itu datang dari Yang Sempurna, tidak bisa dihapuskan, bukan?”&lt;br /&gt;Manu tersenyum senang, “Sebetulnya, apa definisi ‘Datang dari Yang Sempurna’? Perhatikan kubah di atas kita. Bisa saja kubah itu ‘Datang dari Yang Sempurna’ kan? Tapi datang melalui pikiran dan tangan para insinyur kami. Percakapan inipun, bisa ‘Datang dari Yang Sempurna’. Datang melalui dirimu dan diriku. Nah, kau lihat koleksi buku-buku disana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SV7_L-hLYjI/AAAAAAAAAZM/K3o6n2_Gl9I/s1600-h/Lousiana+Star+01.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWN1RNoKPbI/AAAAAAAAAZs/p31WyRJ0T_I/s1600-h/Buku+Terbang+03.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWOLxiRGMTI/AAAAAAAAAbk/7g63dvmyO0U/s1600-h/Buku+Terbang+03.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SXMOhak8_WI/AAAAAAAAAfs/YZzGB4kj4mY/s1600-h/Perpustakaan+Distorsi+04.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 267px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292593959726618210" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SXMSKj3iFmI/AAAAAAAAAf0/Psd30ZLbKxI/s400/Perpustakaan+Distorsi+04.jpg" /&gt;Aku melihat ke arah citra tiga dimensi yang berkelebat-kelebat, sejenis sistem arsip yang menakjubkan. Tiba-tiba, dua berkas cahaya menari-nari di dekat kami, membuatku menyadari kehadiran dua kelompok buku.&lt;br /&gt;Manu mengangguk, “Ada perbedaan menarik diantara dua kelompok buku itu.”&lt;br /&gt;“Apa itu?”&lt;br /&gt;“Salah satu kelompok, berisi buku-buku yang mengaku ‘Datang dari Yang Sempurna’. Kelompok lain, adalah buku-buku biasa, karya sastra para penulis negeri ini.”&lt;br /&gt;“Di mataku, dua kelompok itu terlihat serupa. Yang manakah, kumpulan buku sastra biasa?”&lt;br /&gt;Manu tersenyum, “Itulah pertanyaannya, kawanku Bindu. Dilihat dari materinya, secara obyektif, karya yang mengaku ‘Datang dari Yang Sempurna’ tidak bisa dibedakan dari karya sastra biasa.”&lt;br /&gt;“Tak ada bedanya?”&lt;br /&gt;“Kalau mau, para sastrawan kami bisa saja mengaku, karyanya terinspirasi pengetahuan maha tinggi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Manu. Apakah kau mau mengatakan, ada penulis buku yang berbohong, dengan mengatakan karyanya ‘Datang dari Yang Sempurna’?”&lt;br /&gt;“Tidak. Kami tidak bisa mengetahui, motivasi dibalik pengakuan-pengakuan itu. Kami hanya menyadari, informasi dalam buku-buku semacam itu, tidak istimewa. Tiga ratus tahun lalu, buku-buku itu, kami anggap karya sastra biasa.”&lt;br /&gt;“Konsekuensinya?”&lt;br /&gt;“Tidak boleh lagi ada pernyataan seperti: buku ini ‘Datang dari Yang Sempurna’ maka semua insan harus mengikuti ajarannya. Tak boleh lagi ada klaim, buku ini atau buku itu merupakan ‘Kata akhir dari Yang Sempurna’. Tak ada lagi yang boleh menyombongkan diri, memiliki informasi yang lebih benar, lebih tinggi, daripada yang lain. Sejak itu, peradaban kami, secara etika dan teknologi, maju dengan sangat pesat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau bercerita tentang semua ini, Manu?”&lt;br /&gt;Manu tampak serius, “Karena aku menyayangi peradabanmu, Bindu. Aku berbagi pengalaman, untuk menunjukkan betapa kuatnya sebuah gagasan, betapapun buruknya gagasan itu, bisa menggenggam dan mempengaruhi segala sisi kehidupan kita. Dan gagasan buruk, bisa sangat berbahaya bagi peradabanmu.”&lt;br /&gt;Aku melihat kearah Mbah Rayung, yang sejak tadi diam saja. Rupanya, Si Mbah sama sekali tidak peduli percakapan ini. Duduk bersila dengan mata terpejam, Mbah Rayung melayang beberapa jengkal diatas dipan... *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7413335351300705786-2194915334655254320?l=negeriparadewa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/feeds/2194915334655254320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2008/12/buku-dari-yang-sempurna.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/2194915334655254320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7413335351300705786/posts/default/2194915334655254320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://negeriparadewa.blogspot.com/2008/12/buku-dari-yang-sempurna.html' title='Buku dari Yang Sempurna'/><author><name>Miko Toro</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SpEwCzxWefI/AAAAAAAAAlI/ncis1gUiLWE/S220/Picture0003+(4).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HNN9qf0GOQ8/SWN-YQ7cuhI/AAAAAAAAAac/PVRLjHSHQSY/s72-c/Kampung+Manu+FIN+04.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
